Sabtu, 26 November 2011

MAKNA PERINGATAN TANGGAL 1 SURA

by Prabakoesoema Atmadja
Sebentar lagi sebagian besar masyarakat, khususnya masyarakat Jawa akan memperingati tanggal 1 sura. Sejak saya kecil, sering menjadi perdebatan, peringatan tanggal 1 sura ini apakah benar murni kepercayaan masyarakat Jawa/tahun baru Jawa, atau milik Islam yang di adopsi oleh masyarakat Jawa. Masih teringat saya kejadian beberapa puluh tahun silam , terjadi 'perebutan' antara HPK (Himpunan Penghayat Kepercayaan thd Tuhan YME) dengan golongan Islam, tentang tanggal 1 sura ini merupakan peringatan tahun baru Jawa, atau tahun baru Islam, yaitu tanggal 1 muharram.
Bahkan saya juga masih teringat, ketika itu (saya masih duduk di bangku SD), seorang kiyai menjelaskan, bahwa itu memang tahun baru Islam, buktinya di Islam juga sudah disebutkan tentang kata "Asyura", yang, katanya, kemudian 'diplesetkan' oleh orang-orang Jawa menjadi kata "sura" (atau orang jaman sekarang membacanya "suro"). Pernyataan tersebut dibantah oleh seorang penganut kejawen, bahwa hal itu tidak benar, dan itu merupakan ;othak-athik gathuk nya sang kyai, karena memang sebelum Islam masuk ke Nusantara, Jawa sudah mempunyai kalender sendiri, dimana setiap tanggal 1 sura tsb juga diperingati sebagai tahun baru Jawa.
Lalu bagaimanakah sebenarnya yang terjadi hingga sampai terjadi hal seperti ini ? Sebenarnya, apakah makna dari peringatan tanggal 1 sura itu sendiri ? Benarkah Jawa sudah memliki kalender sendiri sebelum Islam masuk ?
Untuk itu, mari kita tengok ke belakang sebentar, pada jaman Sultan Agung.
PERKAWINAN TAHUN JAWA DENGAN TAHUN HIJRIYAH
Sultan Agung adalah Sultan ke tiga Mataram Islam mulai memerintah Mataram Islam pada usia 20 tahun, lahir di Kutagedhe, Kesultanan Mataram tahun 1593 dan memerintah kesultanan Mataram Islam dari tahun 1613-1645 Masehi.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram berkembang menjadi kerajaan besar di Jawa pada saat itu.
Atas jasa-jasanya sebagai Pejuang dan Budayawan, Sultan Agung bahkan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK presiden no 106/TK/1975 tanggal 3 nopember 1975 M.
Pada awal pemerintahannya 1613 M Raden Mas Jatmika (nama asli Sultan Agung), atau juga lebih terkenal dengan nama Raden Mas Rangsang, menggunakan gelar PANEMBAHAN HANYAKRAKUSUMA atau PRABU PANDHITA HANYAKRAKUSUMA. Pada awal tahu 1624 M beliau mengganti gelarnya menjadi SUSUHUNAN AGUNG HANYAKRAKUSUMA, atau SUNAN AGUNG HANYAKRAKUSUMA.
Pada saat tahun 1640 M beliau mengganti gelarnya menjadi SULTAN AGUNG SENAPATI ING NGALAGA ABDURRAHMAN, hingga tahun 1641 M beliau mendapat gelar dari pimpinan Ka'bah di Mekkah SULTAN ABDULLAH MUHAMMAD MAULANA MATARAM.
Pada tahun 1619 M, VOC berhasil merebut Jayakarta dan kemudian mengganti namanya menjadi Batavia dan akhirnya bermarkas disitu juga Awal mula ide perkawinan kalender Jawa dengan kalender Islam dimulai dari sini. Sultan Agung berkepentingan untuk mengusir VOC dari Batavia dengan meminta bantuan kaum Islam. Dalam perundingan antara Sultan Agung dengan pihak Islam, Sultan Agung menyetujui syarat yang diajukan oleh pihak Islam, bahwa mereka mau membantu Mataram mengusir VOC dengan catatan seluruh penghuni Keraton Mataram dan rakyatnya bersedia untuk memeluk Islam sebagai agama mereka. Dengan bantuan umat Islam ini, Sultan Agung menyerang Batavia dua kali, yaitu pada 27 Agustus 1628 dan mei 1629. Meski kedua serangan tersebut gagal dan menyebabkan banyak korban nyawa berjatuhan, namun akibat serangan ke dua tersebut Sultan Agung berhasil membendung dan mengotori Sungai Ciliwung, yang mengakibatkan timbulnya wabah penyakit kolera dan menewaskan Gubernur Jenderal VOC, yaitu Jaan Pieterson Coen.
Asimilasi kalender Jawa dengan kalender Islam itu sendiri terjadi pada hari jumat legi, saat pergantian tahun baru saka 1555, yang ketika itu bertepatan dengan tahun baru hijriyah, tanggal 1Muharram 1043 H, atau 8 juli 1633 M. Yaitu pada usia pemerintahan Sultan Agung ke 20 tahun.
PERBEDAAN KALENDER JAWA DAN HIJRIYAH
Kalender Saka maupun kalender Jawa memiliki dasar perhitungann yang sama, yaitu berdasarkan pergerakan matahari, sama juga dengan kalender Masehi. Oleh karenanya, untuk penanggalannya selalu tetap dan tidak berubah, dalam arti, jatuhnya tahun baru Jawa, awalnya, selalu tetap, tidak berubah-ubah jika di lihat dengan kalender masehi. Sedangkan kalender Hijriyah menggunakan penampakan bulan, sehingga jika dilihat dari kalender masehi, jatuhnya di kalender masehi tidak tetap, selalu berubah-ubah. Konsep hari pasaran dan pawukonpun juga tidak di temukan dalam kalender hijriyah, yaitu pasaran ; pon, wage, kliwon, legi, pahing serta siklus delapan tahunan yang disebut windu yang terdiri dari ; alip, ehe, jimawal, je, dal, be, wawu dan jimakir. Kalender Saka adalah sistem penanggalan yang dipakai sebelum Islam masuk ke Nusantara ini, sehingga sebelum Jawa menggunakan kalender 'Jawa' yang sekarang ini, sebelum Mataram Sultan Agung , masyarakatnya menggunakan kalender Saka tersebut.
Untuk yang ingin tahu lebih lanjut tentang kalender Saka, lihat di sini ;
Berikut ini adalah nama- bulan kamariah atau lunar (candra)
  1. Sura ----------------------------------------------------------- 30 hari
  2. Sapar ---------------------------------------------------------- 29 hari
  3. Mulud ---------------------------------------------------------- 30 hari
  4. Bakda Mulud -------------------------------------------------- 29 hari
  5. Jumadilawal ---------------------------------------------------- 30 hari
  6. Jumadilakir ----------------------------------------------------- 29 hari
  7. Rejeb ----------------------------------------------------------- 30 hari
  8. Ruwah (Saban) ------------------------------------------------ 29 hari
  9. Pasa (Siyam, ramelan) ---------------------------------------- 30 hari
  10. Sawal ----------------------------------------------------------- 29 hari
  11. Sela (Dulkangidah) -------------------------------------------- 30 hari
  12. Besar ----------------------------------------------------------- 29 hari
Berikut nama-nama bulan dalam kalender hijriyah
  1. Muharram ----------------------------------------------------- 30 hari
  2. Safar ---------------------------------------------------------- 29 hari
  3. Rabiul awal ---------------------------------------------------- 30 hari
  4. Rabiul akhir ---------------------------------------------------- 29 hari
  5. Jumadil awal --------------------------------------------------- 30 hari
  6. Jumadil akhir --------------------------------------------------- 29 hari
  7. Rajab ---------------------------------------------------------- 30 hari
  8. Sya'ban -------------------------------------------------------- 29 hari
  9. Ramadlan ------------------------------------------------------ 30 hari
  10. Syawal --------------------------------------------------------- 29 hari
  11. Dzulkaidah ----------------------------------------------------- 30 hari
  12. Dzulhijjah ------------------------------------------------------ 29/30 hari
Namun karena sistem penanggalan berdasarkan perhitungan bulan tersebut ternyata tidak bisa di jadikan patokan oleh para petani yang tengah bercocok tanam, maka bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa di kondisifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV.
Pranata mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa yang sudah di gunakan pada jaman pra Islam, lalu oleh beliau, tanggal di sesuaikan dengan kalender Gregorian/Masehi yang juga merupakan kalender Surya, namun lama setiap mangsa berbeda-beda :
  1. Kasa (23 juni-2 Agustus)
  2. Karo (3 Agustus-25 Agustus)
  3. Katiga (26 Agustus-18 September)
  4. Kapat (19 September-13 Oktober)
  5. Kalima (14 Oktober-9 Nopember)
  6. Kanem (10 Nopember-22 Desember)
  7. Kapitu (23 Desember-3 Pebruari)
  8. Kawolu (4 Pebruari-1 Maret)
  9. Kasanga (2 Maret-26 Maret)
  10. Kasepuluh (27 Maret-19 April)
  11. Destha (20 April-12 Mei)
  12. Sadha (13 Mei-22 Juni)
Disamping Penanggalan Jawa menurut Sri Paduka Mangkunegara IV di atas, sekitar tahun 1980 juga telah berkumpul para sesepuh Kejawen baik di Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Sunda, yang di pandhegani oleh KRMH Soerjabrata dan R Rahajoe Dirdjasoebrata, mengatakan bahwa tanggal 1 kasa /tanggal 1 sura Jawa asli adalah jatuh pada tanggal 21 malam 22 Juni jika dalam penanggalan Gregorian. Menurut pandangan mereka, diperingatinya tanggal 1 Kasa/1 Sura Jawa dulu itu dikarenakan pada tanggal tersebut telah ada manusia Jawa yang pertama kali semadhi mencapai alam yang tertinggi. Dan ini sudah ada jauh sebelum agama-agama masuk ke bumi Nusantara ini.
Disamping itu, menurut beliau, hal ini kebetulan juga sejalan dengan gerak semu matahari, di mana pada tanggal 21 malam 22 Juni tersebut, posisi matahari terhadap bumi berada di titik paling utara (gerak semu matahari terhadap bumi, dari tanggal 22 Desember-21 Juni matahari 'bergerak' ke arah belahan bumi utara, sedangkan dari tanggal 22 Juni-21 Desember ' berjalan' ke arah sebaliknya).
Oleh karenanya, semenjak saat itu, para sesepuh kejawen tersebut beserta para pengikutnya memperingati tanggal 1 sura/1 kasa pada tanggal 21 malam 22 Juni tersebut. Sejalan dengan hal tersebut diatas, FKIP UNS pun juga menemukan hal yang tidak jauh berbeda, yaitu jatuhnya tanggal 1 kasa/1 sura tersebut adalah pada tanggal 22 Juni.
Saat ini, sistem penanggalan kalender Jawa yang sebenarnya sudah tidak banyak orang yang tahu. Bahkan esensi dari peringatan tanggal 1 sura itu sendiri juga sudah tidak tahu. Biar bagaimanapun, hal ini adalah peninggalan para leluhur kita, sudah seharusnya dan sepantasnya kita pelihara dan kita bangkitkan kembali. Jangan sampai nanti jika diaku oleh golongan lain baru kita marah-marah. Pdhal kita sendiri yang memang tidak mau memelihara dan menghormatinya.
Lihat saja, tanggal 1 sura sudah kehilangan artinya, kata agama yang merupakan kata asli dari Nusantara, juga sudah menjadi hak patent mereka. Bagaimana tidak ? Agama asli Nusantara sendiri di bilang klenik, sesat, menyembah berhala, musyrik, aliran, dlsb dan dianggap tidak pantas berada di bumi pertiwi ini. Jika ditilik dari kata 'Agama' itu sendiri, adakah itu di dalam bahasa mereka kata tersebut ? Ataukah kita akan kembali dituduh memlesetkan kata 'Agama' sebagai kata yang berasal dari kosa kata mereka ? Baru-baru telah juga terjadi, Borobudur diklaim sebagai peninggalan Islam, bahkan Majapahitpun juga akan di klaim sebagai kerajaan Kesultanan Islam.
Apalagi yang kita peringati dari tanggal 1 sura yang di pakai sekarang ini , jika kita mengaku sebagai orang Jawa ? Tidaklah lah salah jika para golongan Islam mengatakan bahwa peringatan tersebut adalah milik mereka, peringatan akan tahun baru mereka, karena memang sejak asimilasi kalender Jawa dengan kalender Hijriyah, tanggal 1 sura dimulai sama dengan tanggal 1 Muharram juga dengan sistem penghitungan bulan. Saya sendiri sejak tahun 80 an, lebih suka mengikuti pendapat yang dikatakan para sesepuh Kejawen, yaitu memperingati tanggal 1 sura/1 kasa pada tanggal 21 malam 22 Juni, mengingat esensi, maksud dan tujuan dari peringatan tersebut. Mau menjamas pusaka, kek, mau lek-lekan kek, juga pada tanggal tersebut, etung-etung ngalap berkahe para leluhur tanah Jawa. Atau masih lebih bagus memakai perhitungan Sri Paduka Mangkunegara IV, yang tetap masih ada relevansinya. Jika memperingati tanggal 1 sura berdasarkan kalender kamariah, apa yang kita peringati ? Apa esensinya ? Daripada memperingati tahun baru leluhur bangsa lain serta menjamas pusaka pada tahun baru leluhur bangsa lain, mendingan saya menjamas 'perabotan' saya sendiri di rumah .....
Untuk selengkapnya tentang artikel ini, bisa di baca di sini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar