Jumat, 06 Mei 2011


DIY Siaga Satu Pascatewasnya Osama Bin Laden
Rabu, 4 Mei 2011 02:07 WIB | 1783 Views

Osama bin Laden (Reuters)
Yogyakarta (ANTARA News) - Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta, Brigjen Pol Ondang Sutarsa Budhi mengatakan bahwa antisipasi setelah pengumuman tewasnya Osama bin Laden maka jajaran kepolisian daerah ini dalam keadaan siaga satu.

"Sampai kini kami masih siaga satu untuk antisipasi keamanan pascapengumuman tewasnya Osama di seluruh wilayah hukum Polda DIY," kata Ondang Sutarsa usai menyerahkan hadiah kepada para pemenang Lomba Esai Tingkat Pelajar SMA/SMK dengan tema `Antisipasi Kemacetan Lalu Lintas Yogyakarta`, di Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Yogyakarta, Selasa.

Diminta komentarnya tentang kesiagaan Polda DIY setelah pengumuman tewasnya Osama Bin Laden, ia mengatakan bahwa jajarannya tidak terkecuali sampai saat ini masih dalam keadaan siaga satu berarti semua kekuatan secara keseluruhan bersiaga .

"Sejumlah titik rawan di daerah ini yang kemungkinan muncul aksi teror maupun anarkis sudah kami antisipasi dengan menempatkan anggotanya di titik rawan dan startegis, juga patroli keliling baik di kawasan keramaian maupun rawan kejahatan,"katanya.

Menurut dia tempat-tempat yang banyak konsentrasi wisatawan mancanegara (wisman) di Kota Yogyakarta, di antaranya hotel kelas bintang juga disiagakan petugas kepolisian dan yang rutin berpratoli adalah polisi wisata rutin.

"Pokoknya jajaran kepolisan daerah ini dalam keadaan siaga tanpa kecuali sehingga diharapkan masyarakat merasa lebih aman dan nyaman,"katanya.

Ia mengharapkan tidak terjadi tindak anarkis kepada orang asing yang ada di daerah ini apalagi dilakukan "sweeping" kepada mereka.

"Namun, saya yakin di Yogya tidak akan ada tindakan `sweeping` orang asing khususnya warga Amerika sebab masyarakat kota ini tidak akan seperti itu. Sebagai destinasi wisata Yogyakarta memang banyak dikunjung wisatawan mancanegara (wisman). Jadi, jangan ada yang melanggar aturan dengan tindakan `sweeping` sebab akan berhadapan dengan jajarannya,"katanya.

Mengenai banyaknya temuan benda mencurigakan yang diduga bom, ia mengatakan pihaknya menghargai kecepatan masyarakat melaporkan kepada polisi tentang benda-benda mencurigan yang ditemukan di lingkungan mereka.

"Sekarang sudah begitu cepat masyarakat memberikan informasi kepada polisi jika ada benda mencurigakan,"katanya.

Sedangkan untuk antisipasi teroris yang masuk ke DIY, kata Ondang, pihaknya meminta warga untuk mewaspadai pendatang baru di lingkungan mereka, apalagi yang tidak pernah bergaul atau bersikap tertutup kepada para tetangganya.

"Hedaknya masyarakat melaporkan jika ada orang baru yang sikapnya mencurigakan apalagi tertutup dengan para tetangganya. Papan peraturan yang biasanya dipasang di mulut gang-gang kampung/desa yaitu 1x24 jam tamu lapor hendaknya dilaksanakan. Hal itu untuk antisipasi tindak kejahatan," katanya.

(ANT/S026)
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © 2011

Sabtu, 30 April 2011

Fenomena Gaib Kiai As’ad Syamsul Arifin

Situbondo, (1titik.com) – Kiai Haji As’ad Syamsul Arifin, dikisahkan pada suatu hari Kiai As’ad disuruh Kiai Wahab Hasbullah mengantarkan surat kepada Sunan Ampel. Dia tidak tahu isi surat itu, tapi dia tahu pasti kalau Sunan Ampel sudah almarhum puluhan, atau bahkan ratusan tahun silam. Namun, d...ia jelas tidak berani menolak perintah gurunya itu. Maka ke mana lagi dia berjalan kalau tidak ke makam sang sunan di Ampeldenta, Surabaya.
Tidak jelas bagaimana pengalaman spiritual yang diperoleh Kiai As’ad dalam mengemban tugas itu. Namun, yang pasti, reaksi Kiai Wahab, ketika dilapori bahwa suratnya sudah ditaruh persis di atas nisan sang sunan, beliau merasa bersyukur karena Sunan Ampel telah merestui pembentukan jam’iyah NU.
“NU adalah tarekat saya, sesuai dawuh (perintah) Sunan Ampel,” tutur Kiai Wahab.
Dikiisahkan pula, ketika Nahdhatul Ulama mengadakan hajatan di Sukorejo, yaitu Munas Alim Ulama 1983 dan Muktamar NU 1984, bantuan logistik mengalir, bahkan melimpah, dari masyarakat, khususnya warga NU. Tujuh hari sebelum acara, tercatat telah terkumpul 20 ekor sapi, 50 ekor kambing, 200 ekor ayam kampung, 15 ton beras, dan lima truk gula, telur, sayur, dan buah-buahan. Semuanya berdatangan di Sukorejo.
Acara yang melayani 1.500 orang itu, tiap hari rata-rata menghabiskan lima sampai enam kuintal beras, 130 sampai 300 ekor ayam, lima ekor kambing dan sapi, satu sampai tiga truk sayur mayur dan buah kelapa, dan tak terhitung kayu bakar, baik yang diantar dengan truk maupun di antar sendiri secara rombongan dengan sepeda ontel. Juru masaknya pun tak dibayar, mereka mengharapkan barakah dari para kiai.
Saking tingginya minat menyumbang dari warga, panitia sampai menolak ternak-ternak sapi dan kambing lantaran mereka tidak mempunyai tempat penampungan. Namun mereka tak habis pikir, binatang-binatang itu kemudian mereka antar lagi dalam bantuk daging.
Bantuan itu tidak hanya berasal dari warga yang kaya. Ada seseorang warga yang hanya memiliki dua ekor sapi yang satunya sedang hamil. Karena untuk acara keagamaan dia menyumbang salah satunya kepada Kiai As’ad.
Anehnya, beberapa hari kemudian seorang “tamu asing” mendatangi warga tersebut. Padahal saat mmberikan sapi itu, selain tulus ikhlas, warga tersebut juga tidak mencatatkan nama dirinya. Lalu, siapa yang memberitahukan tamu asing itu? Lucunya, tamu asing itu ngotot memberikan sejumlah uang beberapa kali lipat dari harga sapi. Karena ikhlas menyumbang untuk kiai, uang itu ditolak dengan tegas. Tapi, si tamu asing menegaskan tak mau meninggalkan rumah itu bila tetap ditolak. Akhirnya, dengan terpaksa uang itu diterimanya juga. Siapa orang asing itu? Manusia atau mahkluk alam lain? Wallahu a’lam.
Menundukkan Bandit
Pada masa itu, di daerah Besuki, jemaah salah Jumat sangat sedikit sekali bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Setelah diteliti oleh Kiai As’ad, ternyata di sana ada seorang tokoh yang amat disegani masyarakat, seorang bajingan. Tanpa ragu-ragu, kiai mendatangi rumah tokoh tersebut.
Mengetahui bahwa tamunya seorang kiai besar, tuan rumah jadi kikuk dan kelabakan. Mereka menjadi sangat terharu dan hormat, karena sang kiai tidak mempermasalahkan dan melecehkan “profesi”-nya. Hebatnya lagi, kiai yang alim dan memiliki banyak ilmu itu mengaku sanggup tinggal bersamanya di dunia dan akhirat. Kalau dia nyasar ke neraka, kiai akan berusaha menariknya ke surga. Syaratnya, dia harus mampu memenuhi masjid dengan warga sekitar dalam setiap salat Jumat.
Diplomasi Kiai As’ad membuahkan hasil. Selain akhirnya orang-orang berbondong-bondong memenuhi masjid, sang bajingan itu akhirnya insyaf dan rajin ke masjid. Misteri apa yang ada pada diri Kiai As’ad sehingga mampu menundukkan bajingan itu? Inilah kelebihan Allah yang diberikan padanya.
Gebrakan Kiai
Merasa dirinya berada di jalan yang benar, Kiai As’ad berani melakukan apa pun, termasuk melawan dan mengusir serdadu Jepang yang berada di depannya. Entah kekuatan gaib apa yang menyertai kiai asal Pamekasan, Madura, ini sampai meja yang berada di depannya hancur berantakan saat digebraknya dengan sangat keras.
“Negeri ini milik kami!” teriak Kiai As’ad sambil menggebrak meja dengan sangat keras. “Negeri ini bukan milik Jepang. Kalian harus meninggalkan negeri ini. Kalau tidak, saya dan rakyat akan menyerang kalian!”
Para hadirin tercengang. Meja yang kukuh itu retak dan kakinya menembus lantai! Pemimpin Jepang bercucuran keringat dingin. Ketakutan! Wajah kiai merah, tak ada yang berani menatap. Semua diam membisu!
“Kalian harus pulang sekarang juga!” kata Kiai As’ad.
Mau tak mau, pemimpin Jepang itu menyerah dan menandatangani persetujuan pemulangan tentara Jepang dari Desa Curah Damar Garahan, Jember, ke Surabaya, dengan catatan semua senjata harus ditinggalkan.
Itulah hasil perundingan tokoh-tokoh masyarakat Karesidenan Besuki dengan pemimpin Jepang sekitar September-Oktober 1945 yang bertempat di Pondok Pesantren Sukorejo. Tentara Jepang akhirnya diangkut dengan kereta api ke Surabaya dengan kawalan anggota Pelopor, tentara keamanan Rakyat, Hizibullah Sabilillah, dan rakyat pada umumnya.
Suwuk Kiai
Sebagai kiai dan ulama besar, Kiai As’ad tidak hanya menguasai banyak ilmu dari para guru dan kitab-kitab Hikmah, namun juga ilmu-ilmu yang bagi masyarakat masa kini sebagai ilmu-ilmu gaib. Maklum, murid-muridnya banyak dari kaum bromocorah, sehingga dia pun banyak mendalami ilmu kanuragan (kekebalan). Saat sesama mereka dibekali sebilah pedang serta celurit dan disuruh saling membacok. Tapi, tebasan pedang dan celurit itu tidak ada yang mencederai mereka.
Sebagian murid lain, ada yang diuji melompat dari pohon kelapa yang tinggi dan ternyata badannya tetap utuh serta segar bugar. Yang ajaib adalah saat di antara para murid itu mampu menjatuhkan puluhan buah kelapa hanya dengan sekali pandang.
Di balik semua aktivitas itu, kiai sepuh yang sederhana ini terus-menerus membaca amalan-amalan agar tidak terlihat musuh. “Asma ini penting untuk mencuri senjata dan menyerang musuh,” tuturnya.
Para santri yang dulunya bromocorah, dua di antaranya bernama Mabruk dan Abdus Shomad, kemudian tergabung dalam Pasukan Pelopor itu, dan memang telah beberapa hari mendalami ilmu kanuragan serta silat. Mereka juga sudah di-jaza’ atau di-suwuk (ditiup dengan doa, atau disemprot dengan air yang sudah didoakan) oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin. Keampuhan mereka itu dibuktikan dalam perjalanan di daerah Dabasah, dekat Bondowoso. Kebetulan di daerah tersebut terdapat sebuah gudang senjata Belanda. Pasukan Pelopor ini, dengan izin Allah SWT, berhasil mencuri 24 pucuk senjata dan sejumlah amunisi tanpa mendapat perlawanan. Dengan ilmu gaib khusus, anak buah Kiai As’ad itu berhasil masuk gudang tanpa terlihat oleh pasukan Belanda.
Pasir Jadi Dentuman Senjata
Ketika mengadakan gerilya, beberapa pejuang tampak membawa pasir. Konon, pasir itu adalah pemberian dari Kiai As’ad kepada para pejuang itu. Pasir tersebut kemudian ditaburkan ke kacang hijau di dekat markas tentara Belanda atau di jalan yang akan banyak dilewati tentara Belanda.
Aneh, suatu keajaiban terjadi. Puluhan tentara Belanda yang bersenjata lengkap itu tiba-tiba lari terbirit-birit ketakutan sambil meninggalkan senjatanya. Mungkin mereka mengira suara pasir itu adalah suara dentuman senjata api. Padahal, saat itu para pejuang tidak membawa senjata api. Bagaikan mendapatkan rejeki nomplok, para pejuang itu seakan berpesta pora dan memunguti satu per satu senjata-senjata yang ditinggal Belanda itu.
Dalam kesempatan lain, sebanyak 50 anggota Laskar Sabilillah mohon jaza’ kepada Kiai As’ad ke Sukorejo sebagai bekal untuk berjuang melawan Belanda. Pertama-tama yang ditanyakan oleh Kiai As’ad adalah keteguhan mereka untuk berjuang. “Apakah kalian betul-betul ingin berjuang?” tanya Kiai As’ad.
“Kami memang ingin berjuang, Kiai, asalkan kami diberi azimat,” jawab pemimpin rombongan.
“Oh, itu gampang,” jawab Kiai As’ad. “Be en entar bungkol, moleh bungkol (kamu berangkat perang utuh, pulang pun utuh).”
Lalu Kiai As’ad mengambil air putih dan menyuruh mereka meminumnya sambil membaca sholawat. Setelah itu Kiai As’ad berpesan, “Kalian tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan. Terus maju, jangan mundur. Kalau maju terus dan tertembak mati, kalian akan mati syahid dan masuk surga. Tapi, bila kalian mundur dan tertembak, kalian akan mati dalam keadaan kafir!”
Mecah Diri
Pada suatu hari, Kiai Mujib diajak Kiai As’ad menghadiri delapan acara walimah haji di luar kota. Kiai Mujib baru merasakan keajaiban yang dialaminya setelah kembali ke Sukorejo. Mereka berangkat pukul 20.30, dan pukul 22.30 telah berada lagi di Sukorejo. Padahal perjalanan pulang pergi saja memerlukan waktu dua jam, sementara mereka harus mengunjungi delapan kali acara yang tepatnya masing-masing sangat berjauhan. Ini belum lagi dihitung waktu Kiai As’ad memberi ceramah dan jamuan makan, yang tentu saja memakan waktu tidak sebentar.
Ini ajaib. Mana mungkin perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua jam plus semua acara yang tempatnya saling berjauhan dan memakan waktu berjam-jam itu bisa dilakukan hanya dengan dua jam? Kiai Mujib mengemukakan kebingungannya itu kepada sopir kiai, H. Abdul Aziz.
“Iya…iya, kenapa bisa begitu?” katanya sambil berulang kali melihat jam tangannya untuk menyakinkan diri bahwa saat itu memang baru pukul 22.30.
Seminggu kemudian, di Sukorejo, Haji Aziz memperoleh info mengenai keributan yang hampir saja terjadi di antara pemilik delapan acara walimah tersebut karena masing-masing ngotot didatangi kiai pada saat yang bersamaan. Akhirnya mereka sama-sama heran, sebab masing-masing mempunyai bukti berupa foto ketika kiai berada di rumah-rumah mereka.
Peristiwa seperti itu pernah dialami sendiri oleh Kiai As’ad ketika muda. Dia heran, ada kiai yang menjadi imam salat Jumat di tiga masjid dalam waktu yang bersamaan. Menurut kisah, Kiai As’ad bermakmun saat salat Jumat dengan imam Kiai Asadullah di Masjid Besuki. Bupati Situbondo, yang mendengar hal itu, membantah, dan sambil ngotot mengatakan bahwa Kiai Asadullah hari itu mengimammi salat Jumat di Situbondo, bahkan sang Bupati mengaku berdiri tepat di belakangnya. Penghulu Asembagus, yang kebetulan mendengar pertikaian itu, malah menimpali bahwa Asadullah menjadi imam salat di daerahnya.
Hal itu mengingatkan Kiai As’ad pada dawuh (perintah) Habib Hasan Musawa bahwa Kiai Asadullah telah mencapai maqam fana fi adz dzat, bisa menjadi tiga bhkan sepuluh dalam waktu bersamaan. Ilmu yang sama kelak kemudian hari juga dimiliki oleh Kiai As’ad
Maqam Fana
Mengetahui bahwa Kiai As’ad telah tertidur pulas, Kiai Mujib, yang memijit beliau, kemudian mencium badan sang kiai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Namun, dia tidak mencium bau apa-apa. “Beliau ini sebenarnya ada apa-apanya tidak sih?” pikir putra Kiai Ridwan, pencipta lambang NU itu. “Apakah ini orang yang dikatakan sudah berada di maqam fana?”
Tapi ternyata Kiai Mujib terkaget-laget. Tiba-tiba terdengar suara, “Pak Mujib, apa yang sampean cari. Apakah sampean mengira di dalam tubuh saya ini ada apa-apanya?”
Dari pengalaman itu Kiai Mujib tersadar, lebih baik melihat beliau dari jauh. Ajaib! Kalau dilihat dari jauh terlihat agak samar tapi tampak, tapi kalau didekati tidak kelihatan. Sulit ditebak, seperti apa sebenarnya tingkatan maqom manusia yang bernama As’ad Syamsul Arifin itu. Sumber http://planet-evolution.blogspot.com/2010/05/fenomena-gaib-kiai-asad-syamsul-arifin.html.

Jumat, 08 April 2011

Pabrik Miras

Keberadaan pabrik Minuman Keras (Miras) di sekitar Jl. Telaga Biru, tepatnya di belakang Pabrik Crum Rubber di KM 14 Lengkuas, Bintan Timur, Bintan, Kepri, sudah lama dikeluhkan warga. Ini menyusul adanya kolam penampungan limbah yang tidak mampu lagi, akibatnya meluber dan mengalir ke parit.
Sementara parit itu sebagai melintasi rumah-rumah penduduk dan bahkan air parit yang airnya berasal dari sumber bukit itu, mengalir secara alami, bahkan di saat musim kemarau, air ini tetap mengalir dengan baik, walau arusnya tidak sederas musin hujan.
Akibat limbah terbawa arus parit ini, karuan saja menimbulkan bau yang tidak sedap, bahkan anak ikan-ikan yang berada di kolam tidak mampu hidup dan pada pingsan serta mati. Kebaradaan pabrik Miras milik Alim yang beralamat di Pelantar II Tanjungpinang ini, bahkan rencannya akan membangun lokasi untuk pengalengan sekaligus. Selama ini, di sini hanya sebagai produksi, sedangkan pengalengan dan pengemasan dilakukan di Tanjungpinang.
Miras ini berlabel Arak Putih, dan dijual di pasar bebas di Tanjungpinang, sejenis minuman keras yang bergambar Apek Botak. Minuman ini memang digandrungi anak-anak muda yang cekak kantongnya, karena harganya memang sangat murah ketimbang Miras bermerk lainnya.
Upaya warga yang protes kepada pemilik usaha Miras ini selalu mentok dan tidak mendapat respon, terutama dari Ketua RT, RW, dan bahkan dikatakan jika perusahaan ini sudah mendapat izin operasional dari Kantor Camat Bintan Timur.
Salah seorang warga di sekitar lokasi ini menuturkan, pihaknya tidak melarang keberadaan usaha ini, tetapi harus memperhatikan lingkungan. Mungkin dulu jarang rumah penduduk, kondisi sekarang sudah berbeda dan ini perlu mendapat perhatian khusus. Silahkan saja, tetapi kolam untuk menambung limbah sebelum dialirkan ke parit harus bagus. Sehingga limbah yang mengalir ke parit, sudah tidak beracun dan tidak pekat lagi.

Minggu, 03 April 2011

PSSI, Nurdin dan Andi Malarangeng

Kongres PSSI di Pekanbaru gagal sudah, dan Ketua PSSI Nurdin juga membatalkan, ia langsung kembali ke Jakarta. Akhirnya, Menegpora Andi Malarangeng membekukan PSSI dan pengurus PSSI harus segera keluar dari kantornya, karena lokasi itu milik pemerinta.
Muncul reaksi dari berbagai kalangan, menilai Nurdin tidak mampu melaksanakan Kongres PSSI, ada juga yang menilai kongres senngaja ada yang menunggangi dan berusaha digagalkan, kemudian tindakan Menegpora gegabah dalam membekukan PSII. Beginilah negeri ini, beraneka ragam budaya dan adat istiadat, beraneka ragam pula pola pikir dan kepentingannya.
Nurdin ada yang mengatakan memang sudah tidak patut lagi menjadi Ketua PSSI, namun Nurdin seakan disuruh ngotot harus bisa menduduki jabatan itu, tentu ada tujuan lain untuk kepentingan lain pula. Gelagat ini sudah bisa dibaca oleh pihak lain, terlebih yang tidak suka dengan Nurdin. Dicarilah kesempatan "emas" untuk benar-benar mendepak Nurdin, berhasil. Pada 26 Maret adalah saat yang tepat sebagai alasan mendepak Nurdin beserta kroninya.
Sekarang muncul pemikiran lain, siapa yang membekukan PSSI dan mendepak Nurdin, tentu juga punya maksud dan tujuan lain. Ini tentu terkait dengan kepentingan Partainya di massa mendatang. Tetapi Nurdin yang dihubungkan dengan kepentingan partai juga, ada yang menyangkalnya, oooalaaaaaaah.
Memang, ketika PSSI melawan Malaysia di Jakarta, penjualan tiket banyak yang menilai tidak profesional, PSSI dinilai tidak becus, tentu ini mengarah kepada ketuanya.
Terlepas dari itu semua, sebaiknya sekarang segera dibentuk kepengurusan yang baru saja, sehingga mereka yang bisa terus berlatih dan bermain bola dengan baik. Tentu diharapkan dengan managemen yang baru, dunia sepak bola di Indonesia akan berkembang lebih baik, tidak mengutamakan keponakan, anak teman, saudara dalam perekrutan pemain baru untuk di didik menjadi pemain yang handal dan berbakat.
Jika memang Kongres mendatang akan dilaksanakan di Surabaya, silahkan, tida ada masalah, yang terpenting laksanakan dengan baik dan aman. Jangan ribut lagi ya saudaraku.

Senin, 28 Maret 2011

Presiden 207 Hari Prawiranegara


Membaca buku Syafruddin Prawiranegara, pikiran saya seakan kembali ke massa lalu dan mengelus dada dengan kondisi saat ini. Betapa tidak, sungguh sebagian besar pemimpin dan elit politik  saat ini "kurang" bisa menghargai jerih perjuangan pemimpin kita massa lalu.
Presiden Prawiranegara sungguh orang yang sangat amanah ketika mendapat mandat dari Presiden dan Wakil Presiden RI Soekarno-Hatta untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) setelah Pak Karno dan Bung Hatta tertangkap Belanda di Yogyakarta.
Dengan posisi memimpin PDRI massa itu, berarti Syafruddin Prawiranegara sama halnya sebagai presiden sementara untuk melanjutkan pemerintahan Negeri ini. Betapa pelik situasi kala itu, berapa nyawa yang melayang dalam perjuangan untuk kemerdekaan RI dan betapa sengsaranya saat itu.
Apa lantas setelah Indonesia Merdeka dan Pak Karno dan Bung Hatta ditagkap Belanda lalu kemerdaan RI akan diabaikan. Disinilah Presiden Prawiranegara benar-benar ber-amanah menjalankan pemerintahan darurat dari luar Jawa.
Betapa berperan pentingnya seorang Prawiranegara saat itu, kalau saja ia tidak bersedia dan membiarkan kondisi itu berjalan apa adanya, nasib Indonesia mungkinkah akan seperti sekarang ini?
Melihat kondisi saat ini, saya sungguh tidak bias berbuat banyak, hanya mampu berbuat semampu dan sebisa saya. Ya………….., paling tidak hanya bisa berkata-kata, ber-churat dengan teman-teman dan group HimPin, terlebih di group ini saya merasa terhormat bisa memiliki saudara, teman, kerabat yang cukup handal, piawai, agamawan, negarawan.
Sudahlah, kuusap tetesan air mata yang tanpa dirasa mengalir di pipi saya, karena miris  mengenang massa silam perjuangan pemimpin kita dan mengelus dada meilhat kondisi saat ini.
Pemimpin kita berjuang benar-benar untuk rakyat, untuk orang banyak, tetapi sebagian besar pemimpin sekarang berjuang untuk kepentingan diri sendiri dan golongan. Pemimpin sekarang suka mengumbar nafsu, suka membeberkan keburukan teman dan apalagi yang dianggap sebagai lawan.
Tidakkah disadarinya, bahwa manusia itu bisa dikatakan berguna manakala tindakannya bermanfaat untuk orang banyak. 
Kisah Presiden Prawiranegara ini, Minggu (27/3/11) di bacakan oleh Butet (Budayawan) dan Marcel (artis Sinetron)
Allahu Akbar.

Minggu, 13 Maret 2011

Rakyat Terus Dirugikan

Setyahadi Winarto
Menarik mengikuti tayangan Metro TV hari ini mengenai kebijakan energi yang amburadul. Minyak bumi yang sebentar lagi habis, batu bara dalam negeri yang banyak dikapalkan untuk eksport, proyek listrik 10,000 MW yang kebutuhan batubaranya harus diimport dari china dengan batubara muda, karena desain mesinnya (boiler)nya oleh China menggunakan batubara muda negara tersebut, penanaman tanaman jarak oleh petani di NTT tapi sampai jatraknya besar dan berbuah tidak bisa diolah karena tidak ada pabrik pengolah untuk biodiesel, gas yang banyak dieksport padahal di DN banyak memerlukan pasokan gas tersebut untuk PLN, petrokimia dan industri pupuk...sampai dengar pendapat direktur utama Pertamina mengenai kelangkaan BBM di beberapa tempat di Indonesia ....kelangkaan energi di Indonesia akan semakin nyata dan semakin nyata......suatu saat bukannya tidak mungkin,,bahwa penduduk akan kembali lagi menggunakan "klaras"/daun kering untuk memasak....makin mblangsak saja negeriku...tapi semoga tidak...dalam kesulitan pasti ada kemudahan..kalau semua mau berusaha dan berpikir jernih....
  • Samsoel Maarif Akan dibenahi nanti kalau pakta koalisi sdh diperbaiki...katanya...jadi rakyat kudu tetep sabar, ikhlas dan yakin bahwa pemerintah masih memikirkan nasib rakyat....

    • Setyahadi Winarto Beberapa kali terakhir ini sudah sering terjadi kelangkaan BBM pak..untung rakyatnya masih sabar Pak....
    • Samsoel Maarif Bisnis BBM katanya menguntungkan...menjual minyak mentah dpt komisi....import juga dpt komisi.....
    • Setyahadi Winarto ‎#Mungkin seharusnya pemerintah membuat langkah radikal...umpamanya untuk pengembangan perumahan baru pihak pengembang harus menyediakan "pengolahan ampas tahu" menjadi bio gas yang dimanfaatkan oleh penghuni di perumahan itu nantinya...
    • Setyahadi Winarto ‎#Sangat menguntungkan Pak..1% fee nya saja...sdh berapa besarnya....
    • Samsoel Maarif ‎@Pak Win kalo sempat..kita coba aja utk wilayah kecamatan Turi tempat spmaa nya asparagus, bagaimana gambaran daya dukung dan daya tampung energy nya.....
    • Samsoel Maarif ‎@Pak Win yg saya alami...introduksi penerapan bio teknologi perlu ketelayenan....saya mendampingi perusahaan dlm [enerapan bio teknologi dlm pengolahan limbah tekstil....bakteri tdk bisa ditipu dan td mau di ajak nipu....kalau syarat kondisi hidupnya tdk terpenuhi, kalau engga mati iya mabok lah....jadi dlm hal penerapan bioteknologi, ybs kelihatannya kudu menguasai betul ttg pernik2 biologi tmsk bakteri,,,,saya rasa demikian pula halnya dlm pelaksanaan demplot tani organik yg kita rencanakan...
    • Setyahadi Winarto ‎#Pak samsoel, pernah jg ditayangkan di Tv klu nggak salah, satu RT, kotoran ternak bahkan pabrik tahunya dikumpulkan..terus dibuat bio gas..dan urusan masak memasak warga RT tsb dari bio gas yg dihasilkan...perlu dicari informasinya..
    • Samsoel Maarif Iya di pabrik tahu dan peternak sapi biasanya......ternak sapi pangalengan kabarnya sdh menerapkan, sekaligus sbg solusi pencemaran lingkungan.....
    • Setyahadi Winarto ‎#Pak Samsoel..kemarin-kemarin kami mengembangkan pemurni air, terutama yang ekstrim kayak limbah tekstil..dengan methode/teknologi plasma/loncatan listrik...keluar dari plasma tersebut..limbah cair yang ekstrim jadi bersahabat dgn lingkungan..output airnya kita gunakan untuk kolam ikan..ikannya tidak mati...namun R&D berhenti...sekarang barangnya msh ada di workshop....
    • Samsoel Maarif Wualah..temen saya juga sempat kampanye teknologo plasma ini, waktu saya kehar ybs juga kehilangan jejak.....yg saya dengar baru skala uji coba iya (utk kapasitas debit limbah kecil)....Kalau prospek, hayu lah di kembangkan siapa tahu ada sponsorship....di SinarMas Grup ada yayasan Eka Tjipta yg relatif peduli lingkungan,,,
    • Setyahadi Winarto ‎#Berati tinggal survey dan kloning untuk applikasi di tempat lain ya Pak?...peralatan pernah baca kayaknya nggak ribet2 amat...
    • Samsoel Maarif Kabrnya sih hanya bikin petir buwatan...info masih simpang sihur...sekilas katanya PAU ITB terlibat, cuman penelitinya siapa juga belum jelas sih....
    • Setyahadi Winarto Saya sudah buat modelnya satu unit..alat ada di Cikiwul-Bekasi...sudah sejak Agustus 2010 kemarin..tahun kemarin banyak buat coba2...tapi tahun ini lebih baik ke yg riil2 dulu pak...
    • Samsoel Maarif Oke teknologi plasma kita memorikan saja dulu,...di cimahi saya butuh...binaan ada 100 pabrik tekstil...
    • Setyahadi Winarto ‎#Pak samsoel penelitinya saya tahu..malah beliau juga mengembangkan hydrocarbon refrigerant yang ramah lingkungan yg akhirnya diproduksi oleh Pertamina tsb, tahun 2010 kemarin kami intensive diskusi dan sering ketemuan....salah satu pilot R&d kami ya yang sekarang barangnya di workshop kami itu...
      Samsoel Maarif ‎@Pak Win...bapak Harsono Taroe sekarang rektor Itenas dan PSDALnya minta aliansi dg saya, jadi kedepan kelihatannya peluang dpt di kreasikan....
    • Setyahadi Winarto Wah, kalau memang mau..skala tinggal diperbesar saja....rencana yang di Cikiwul tadinya mau kami buat mobile unit..namun ada kendala di kendaraannya...jadi kalau ada yang mau nguji tinggal kita bisa pindah kendaraannya....
      Samsoel Maarif ‎@OK kelak kita lanjut,,,,,,,ttg teknologi plasma...aku dg PAU ada beberapa chenel juga...lab hayati dan lab elektro....

    • Setyahadi Winarto ‎#Pak samsoel, kalau ingin melihat unitnya sudah ada pak...dan sebelum kita simpan kematin kita coba menjernihkan air selokan..dan hasilnya bagus...TDS turun, limbah terpisah dan terkoagulasi....
    • Samsoel Maarif Nanti kita ulig di Cimahi....saya lagi berusaha gaet pak Wali....kelihatannya Rumah2 Sakit juga pada minat tuh...
    • Setyahadi Winarto Betul, bahkan gedung, gedung bertingkat..untuk pengolahan waste waternya....
    • Samsoel Maarif ‎@ Sip ..Bismillah..kata Gus Hfidh nya....
    • Samsoel Maarif ‎@Ngomong2 Bu Asih itu juga aktivis Badan Lingkungan Hidup Malang tuh.....mustinya juga butuh......engga mau kopi iya kita kasi limbah saja....
    • Samsoel Maarif ‎@Btw pak Win..teknologi plasma ini apa pernah di cobakan di PT INSAN SANDANG pabrik tekstil di Rancaekek..?
    • Samsoel Maarif ‎@Pak Win apa ada kaitannya dg Eco Star..?
    • Setyahadi Winarto ‎#Pak Samsoel..belum jelas Pak...yang jelas unit yang ada di tempat kami kapasitasnya lumayan besar...kami berhenti dulu untuk R&D untuk bernafas..he..he...maklum pekerjaan R&D model beginian kan nggak jelas..tapi so far hasilnya memuaskan Pak...sebenarnya tinggal selangkah lagi...
    • Setyahadi Winarto ‎#Pak Samsoel, coba sy diskusi dengan penemunya...sy mintakan informasi apakah pernah di uji coba di sana...
    • Samsoel Maarif Nanti kita coba gaet Kemen Perindustrian spy ngedorong Sinar Mas Grup mau sponsori penelitian lanjutannya..toh utk kebutuhan pelestarian alam.....he he hehe iya siapa tahu...
      Samsoel Maarif Sip....kalau perlu ke bandung lah...di bandung starbuck juga ada kok...
      8 jam yang lalu ·
    • Setyahadi Winarto Kalau Eco Star rasanya tidak Pak....
    • Samsoel Maarif Aku coba kirim imel lewat...setya@dnet.net.id...tlg di cek nyampe engga nya...tks
      8 jam yang lalu ·
    • Setyahadi Winarto Muantapz pak...ketemu..sambil ngopi...ya Pak saya Cek e-mail..
    • Js Kamdhi Jayahadi Saputra Mas Win, nek ngono "sing goblok" itu siapa ya?
    • Setyahadi Winarto
      ‎#Pak Kamdhi, ya Pak, bukan selalu menjelek-jelekkan Pemerintah, lha Pemerintah lah yang membuat kebijakan dan merekalah yang harusnya mengawal kebijakan tersebut secara konsisten contohnya pada waktu harga minyak dunia tinggi, dan solar DN... langka (akibat disparitasharga antara solar industri, solar non industri, dan harga solarantara DN dan negara tetangga) maka ada anjuran untuk menanam jarak dsb sebagai sumber bio diesel yang terbarukan, tapi kok ya nggak tuntas, palnt produksinya nggak sekalian dibuatkan, begitu solar sdh "stabil" lagi pura2 lupa lagi..padahal "sifat stabil" harga solar ini juga "semu"....Lihat Selengkapnya
    • Alan Ws
      Pak Win: inilah sebenarnya wajah negeri kita, suka menjual kekayaan negeri pihak asing dan mengimpor dari negeri lain. Alasannya kalau diekspor harganya mahal, tetapi tidak mikir berapa harga kalau mengimpor dan berapa keperluan batubara un...tuk keperluan dalam negeri. Para penguasa kita tidak mikir siapa sebenarnya yang diuntugkan dalam penjualan hasil bumi ini? Pemerintah? jawabannya bohong besar. Yang benar adalah pengusahanya yang untung, siapa pengusahanya? ya pengusaha yang di back up penguasa juga. Bukan hanya batubara, bauksit, timah, emas, gas alam dan kekayaan alam ini banyak dinikmati pengusaha dan penguasa. Bukan tidak boleh dieksport, tetapi penuhi dululah keperluan dalam negeri, sehingga tidak perlu mengeksport

Sabtu, 12 Maret 2011

Saya Jumat 11/03/11 mendapat telepon dari Jayapura, dari salah seorang keluarga dan melaporkan jika dirinya sedang berkumpul bersama warga disana di sebuah perbukitan, ini atas arahan pemerintah setempat menyusul terjadinya tsunami dan gempa di Jepang.

Menurutnya, imbas tsunami bisa sampai di Indonesia bagian timur, sampai pagi ini, keluarga saya masih berada di perbukitan, karena masih ada intruksi tidak boleh turun, dan diinformasikan gempa susulan bisa saja dan bahkan akan terjadi.

Siangnya kemarin, saya juga melihat kejadian ini di televisi dan saya tidak kaget, tetapi bisa berkata inilah kuasa Illah yang siapapun tidak akan bisa menolak. Kejadian ini juga mengingatkan saya tsunami di Aceh, Sumbar, muntahnya Merapi, di Indonesia.

Dengan kejadian ini saya teringat ketika saya naik kapal laut dan kapal nomad milik TNI AL dalam tugas kewartawanan tahun 1998, ketika berada di tengah laut, mata saya memandang jauh semampu mata saya menembus pantai. Namun tidak mampu, dan yang ada dalam pikiran saya adalah betapa kecilnya diri ini, naik kapal bersama ratusan orang, kapal ukuran besar, tetapi ketika berada di tengah laut, kapal yang besarpun tiada arti jika dibandingkan dengan luasnya lautan.

Ketika saya naik pesawar nomad melintas lautan, saya melihat kapal penupang berkapasitas 2000 orang, sangat terlihat kecil seperti kue lemper, seperti pisang goreng, apalagi kapal nelayan terlihat seperti lidi. Pertanyaannya, kepada siapakah kita akan meminta tolong jika sesuatu musibah yang tidak kita inginkan ternyata terjadi menimpa kapal itu? Allahu Akbar.

Ya catatan gus Hafidh yang sangat singkat, DIRI KITA, PIDIE KITA, INDONESIA KITA, JEPANG KITA, saya tambahka MERAPI KITA, tapi sangat berakna. Seolah mengajak kita untuk melihat bencana di beberapa daerah ini juga menjadi masalah kita semua.

Saya mencoba menghubung-hubungkan walau mungkin tidak ada hubungannya, atas Kekuasaan-NYA dengan segala persoalan yang terjadi di alam ini. Tidakkah rentetan bencana alam ini bisa menjadi pelajaran, menjadi guru bagi kita semua.

Kalau jawabannya bisa, kenapa kita saling mencurigai, saling menjatuhkan, saling membuka aib, saling hantam, yang endingnya hanya sebuah kekuasaan, hanya jabatan, dan hanya uang, sementara masyarakat kita terabaikan dan diajak mendengarkan kalimat-kalimat yang tidak layak untuk didengarkan.

Adalagi hanya masalah perbedaan pendapat soal kehidupan ini, sampai bertiindak anarkis, bahkan saling bunuh? Padahal kita di alam ini harus hidup saling bergandengan, saling menyayangi dengan siapapun, tidak membedakan agama, suku, ras dan budaya. Kita yang diberi akal sehat, menangkap kalimat bahwa mereka yang membunuh merasa paling benar dan mereka yang dibunuh memang harus dibunuh, bagi saya mereka yang merasa paling benar kemudian berani membunuh adalah BENAR DI JALAN YANG SESAT.
Harapan saya, kita, mereka pasti:
1. Hidup rukun dan damai
2. Saling menyayangi
3. Hindari perbantah-bantahan yang justru merugikan
4. Hindari rasa curiga dan mencurigai
5. Bersama membangun negeri
6. Membangun lapangan kerja sebanyak mungkin
7. Mengelola alam sebaik dan sebenar mungkin
8. Hindari kepentingan pribadi dari segala persoalan
9. Utamakan kepentingan orang banyak, niscaya diri kita akan diuntungkan
10. Manusia yang berguna adalah yang berguna bagi orang banyak

Dalam catatan ini, saya mohon maaf kepada siapapun, orang tua saya, guru saya, senior saya, keluarga, sahabat saya dan kepada komunitas ini. Tidak ada sedikitpun niatan untuk menggurui, tetapi saya yang sangat minim ilmu ini justru ingin belajar kepada siapapun, termasuk kepada alam yang tidak berbiacara tetapi hanya memberikan tanda-tanda zaman.

Bismillah

Selasa, 01 Maret 2011

Nasibmu Pecinta Bola

Kisruh di tubuh Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) terus berlanjut, kasus ini sampai hampir mengorban media dan berujung melaporkan ke polisi. Demikian juga Komisi X DPRRI dan Menegpora, saling menyampaikan komentarnya. Hebatnya, Nurdin Khalid dengan enteng menganggap bahwa gejolak demo yang menantangnya itu adalah ada pihak yang berusaha menjatuhkannya dan mereka ada yang bayar.

Kemudian bagaimana menyelesaikan kasus PSSI ini? bisakah pemerintah dan DPR campur tangan dalam menengahi atau turut menuntaskan persoalan inim jawabannya seharusnya bisa dan memang kewajiban pemerintah segera turun tangan menyelesaikan persoalan nasional ini.

Memang PSSI adalah lembaga non politik dan tidak bisa ada pihak lain yang mencampuri urusan internal, tetapi PSSI jangan lupa, darimana anggaran operasional PSSI kalau bukan dari pemerintah. Tahun 2010 saja, APBN buat PSSI sebenar Rp. 20 miliyar dan rencananya tahun 2011 naik menjadi Rp. 70 miliyar. Maka itu, layaklah jika pemerintah segera turun tangan, karena dana ini adalah dari rakyat serta tidak sepenuhnya bersalah jika rakyat berunjukrasa menentang pencalonan Nurdin Khalid.

Jika ada pihak yang memiliki pendapat lain, silahkan berbagi dalam blog ini, terima kasih.(warnawarni-news)

Senin, 28 Februari 2011

ABK Tewas di Atas Kapal

Anak Buah Kapal (ABK) KM. Indah Fajar, meninggal dunia di atas kapal saat berjaga malam di Pelabuhan Sri Bayintan, Kijang, Bintan Timur, Pulau Bintan, Senin 928/02/11), Senin pagi jenazah korban dilarikan ke Puskesmas Kijang dan dirujuk ke RSU Tanjungpinang untuk dilakukan otopti. Kasus kematian ABK Indah Fajar ini sedang dalam pengusutan jajaran Polsek Bintan Timur.

Petugas kepolisian Sektor Bintan Timur membenarkan kasus ini dan pihaknya sedang menyelidiki penyebab kematian korban.(warnawarni-news)

Sabtu, 26 Februari 2011

Hayalanku

Golden opportunity for a panglina Army in Indonesia to take over the government was not utilized Wiranto. Why, are afraid because they still have not received support from the ranks of the TNI and the Police? or because it was too sendiko dawuh (subject to the senior-Soeharto), padahalan Suharto has given the signal acquisition.
If Wiranto want, when it is a golden opportunity for him, he might even be able to power until today. But what is reality? Wiranto did not dare to act boldly and I understand, because when it was still quite influential generals and he was the Suharto family.
Why do since he became party chairman just desperate to become the number one in Indonesia? although the reality is not able to outperform junior (SBY). Here's my question for this that always bothers me.
Look at Egypt, Yemen, Libya and other Arab countries, a wave of protests could deteriorate the arrogance of a president. The question is, Egyptians mimic Indonesia, or Indonesia would have faced a case like in Egypt?

Kamis, 10 Februari 2011

Demi Keluarga Abaikan Jiwa

Jakarta, Warnawarni-news (09/02/11)
Para karyawan di beberapa perusahaan di Jakarta yang berasal di berbagai daerah di Jakarta dan Jawa Barat ini, baik pergi dan pulang kerja naik kereta api. Celakanya, karyawan yang tidak kebagian tempat duduk karena kapasitasna terbatas, mereka nekat dan bahkan sengaja naik diatas gerbong kereta yang sewaktu-waktu bahaya bisa mengancam jiwa mereka.
Mereka pasti menyadari soal keselamatan jiwanya, akan tetapi mau apalagi, karena kondisinya memang harus seperti ini, Diantara mereka bukan lagi karena tidak mendapatkan tempat duduk, akan tetapi justru disengaja naik di atas gerbong dengan alasan bisa bayar murah dan bahkan tidak perlu bayar.
Para pekerja yang nekat ini, biasanya memarkirkan kendaraannya di sekitar stasiun kereta api di Depok, Bogor dan stasiun lainnya, kemudian dari stasiun ini mereka dengan kendaraannya atau dengan angkutan umum lainnya bisa pulang ke rumahnya.
Pertanyaannya, akankah persoalan angkutan ini bisa ditingkatkan pelayanannya, sehingga tidak ada lagi mereka sampai naik diatas gerbong kereta? Karena dalam kondisi seperti ini sewaktu-waktu bisa mengancam jiwa mereka? (ara)

Rabu, 09 Februari 2011

Nasibmu Pulau Galang

Jakarta Warnawarni News, 7/2/11

Senin pekan ini saya ketemu dengan salah seorang pengurus pembebasan lahan di Pulau Galang, ia sangat menyesalkan penolakan pemerintah pusat rencana dikembangkannnya Pulau Galang sebagai daerah ekslusiv. Alasannya tidak jelas dan bertele-tele, maka dianggapnya alasan itu sebagai tindakan tidak profesional.
Dengan penolakan dkembangkannya Pulau Galang yang dulunya tempat pengungsian Vietnam ini, berarrti pemerintah tidak bersedia diajak maju dalam membangun di setiap daerah, padahal ini merupakan peluang bagus bagi pemerintah dan masyarakat sekitar Pulau Galang. Sehingga diharapkan masyarakat sekitar bisa menikmati kemajuan di daerahnya dan mengambil peluang usaha mandiri di daerahnya.
Sesuai rencana, bahkan lokasi ini sudah di mapping, akan dijadkan area eksklusive, dibangun sarasana dan prasarana mewah. Kalau orang Indonesia bisa membeli rumah dan apartemen di Singapra dan Malaysia misalnya, kenapa kita tidak membangun area yang bisa dijadikan tempat istirahatnya orang luar, jika memang tidak boleh dijual, bisa saja disewakan.
Pemerintah tidak perlu keluarkan biaya, inilah rencana pengusaha asal Jakarta membanguan area ekslusive di Pulau Galang, tetapi yang diminta adalah perizinannya saja. Segala biaya yang timbul akibat pembangunan lokasi itu, ditanggung sang pengusaha dan pengusaha bersedia dalam kurun waktu sekian tahun, area itu bisa menjadi milik pemerintah.
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana masyarakat Kepulauan Riau umumnya dan sekitar Pula Galang khususnya menghadapai persoalan ini? Jika memang menghendaki dikembangkannya Pulau Galang, silahkan mendesak kepada pemerintah pusat. Sementara pengusaha yang berminat membangun area itu, dengan sangat kesal dan belum diketahui apakah masih berminat atau tidak lagi. Diakuinya, biaya yang dkeluarkan dalam pemetaan lokasi tidaklah kecil, namun tiba-tiba pemerintah tidak setuju.(ara/9/2/11)

Tambang Bauksit Ancam Rusak Jalan Aspal

Tanjungpinangnews

Rekanan saya kemarin melaporkan via telepon dan segera mengirim foto lokasi, bahwa di Kampung Dompak Laut, Tanjungpinang ada penambangan bauksit. Akibat penambangan ini, truk-truk pengangkut baukit melintasi jalan aspal  dan kini jalan aspal terancam rusak.

Bukan hanya jalan aspal yang mulai bergelombang dan berlubang, tetapi beberapa bangunan penting seperti Masjid di sekitar lokasi itu juga mengalami keretakan, karena pengerukan bauksit berada tidak jauh dari tempat ibadah ini.

Namun sampai saat ini, aktivitas penambangan bauksit ini tidak pernah ter ekspose di media masa, padahal warga sangat mengeluhkan aktivitas perusahaan PT. Duta Buana Raya. Namun keluhan warga sampai saat ini tidak mendapat respon dari pemerintah setempat.

Salah seorang pengawas di perusahaan ini, yang biasa dipanggil Pak Dede ketika dikonfirmasi Rabu (09/02/11) pagi via poselnya menolak memberikan komentarnya, dengan alasan khawatir salah dalam memberikan informasi, karena kapasitasnya hanya sebagai karyawan..(ara/9/02/11). info awal dan segera dikembangkan

Selasa, 01 Februari 2011

Perang Melawan Kapitalis

Perkembangan pay tv di Indonesia semakin baik dan bermunculan, gugur satu muncul lainnya, gugur Astro muncul AORA, muncul Skynindo, Telkomvision. Namun keberadaannya pay tv ini menjadi ancaman bagi perkembangan Indovision yang merasa ada lebih lama tetapi tidak berhasil mencapai target pelanggannya.

Bahkan belakangan pelanggan Indovision semakin merosot lantaran semakin berkembanganya pay tv melalui kabel yang hampir tumbuh di seluruh pelosok desa di negeri ini. ratusan ribu pelanggan Indovision memilih putus dan pindah ke tv kabel, lantaran tv kabel lebih murah, dan pelanggan tanpa berfikir apakah tv kabel itu legal atau ilegal, yang terpenting murah meriah, channel yang disuguhkan juga ada di Indovision.


Dalam sebuah seminar di beberapa daerah terungkap atas ketakutan Indovision ini dengan maraknya tv kabel, khawatir kasus di India terjadi di Indonesia. Mengapa demikian, karena di India masyarakatnya banyak yang berlangganan tv kabel dan meninggal pay tv satelit, jika ini terjadi, investasi yang milyaran rupiah bisa kolap. Jawabannya, kenapa harus investasi milayaran rupiah, jika dengan puluhan juta sudah bisa memberikan yang terbaik kepada masyarakat yang mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan informasi, hiburan dan pendidikan via media visual.

Kabar terakhir untuk mendepak tv kabel ini, pay tv indovision membuka jaringan tv kabel di Sulawesi, menyusul segera dibuka di beberapa daerah lain dengan harga iuran yang mengejutkan, yakni gratis selama setahun dan tahun berikutnya hanya dikenakan iuran cuma Rp. 15.000/bulan. Sedangkan iuran tv kabel saat ini, sudah ada yang mencapai diangka Rp. 70.000/bulan dengan channel lokal dan premium.

Bagaimana mengantisipasi persoalan ini, karena ini akan menjadi persoalan bagi pemilik usaha tv kabel, yakni kebersamaan dan persatuan komunitas tv kabel di Indonesia, tidak ada lagi pemikiran negatif thinking sesama pengelola. Jika kebersamaan ini bisa dijaga dengan baik, bukan omong kosong dan bukan janji belaka, ada pihak yang akan memberikan support kepada tv kabel di Indonesia dengan konten gratis dan bahkan bisa mendapatkan inkam dari pusat.

Maksudnya adalah, dengan terealisasinya Indovision menggratiskan iuran, kita sudah siap dengan kondisi ini dan ini pernah saya sampaikan kepada beberapa teman di Jakarta. Tapi masih ditanggapi pesimis, ya memang beginilah sebuah pemikiran, terkadang terabaikan oleh terkotak-kotaknya pemikiran kita. Hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, ini tidak pernah teman-teman sadari.

Seperti saya akan mewujudkan IBO (Indonesian Box Office) ini hanya sebuah wacana dan tidak akan terbukti, karena tidak mudah dalam menggabungkan seluruh kekayaan budaya negeri ini, diperlukan tenaga dan financial yang tidak murah. Namun mereka tidak pernah menyadari yang tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Maka itu, biarkan waktu yang akan menentukan, yang terpenting semua teman-teman tetap bersemangat dalam menjalankan usahanya dan tidak terdapat kendala. salam